Setelah kepergian Shena Riana tidak bisa tenang, ia ragu jika Shena pulang untuk menemui kedua orang tuanya. Riana ingin cepat pulang dan bertanya kepada ibunya apakah benar orang tua Shena pulang dan bertemu dengan Shena.
“Si mbanya buru – buru amat, mau kemana?” Tanya Ajeng saat melihat Riana yang sedang memasukan bukunya asal ke dalam tas. Tak ada jawaban dari Riana, bukannya tak mau menjawab pertanyaan Ajeng, hanya saja Riana tidak mendengar suara Ajeng karena terlalu focus memikirkan Shena.
“KACANG SUUK, Balik bae ah urang mah pundung. Asa wae ngomong sorangan”. Tanpa menunggu jawaban Riana Ajeng pergi meninggalkan kelas. Karena Ajeng tahu pasti Riana tidak mendengarnya lagi.
Saat keluar dari area sekolah, Riana bergegas mengayuh sepedanya dengan cepat.
“WOY SEPEDA JELEK YANG BENER DONG BAWANYA”. Ucap Pengendara ugal – ugalan.
“INI SEPEDA AYAH BUKAN SEPEDA JELEK TAHU. DASAR JELEK”. Teriak Riana tak terima karena sepeda ayahnya ini disebut sepeda jelek. Mendengar ucapan Riana sang pengemudi mobil itu berhenti, dan turun menghampiri Riana.
“Yang jelek ini sepeda tua lo tau, buang sana dijual aja ga laku HAHA”. Ucap si pengemudi yang bernama Dion
“INI SEPEDA AYAH BUKAN SEPEDA JELEK, WALAUPUN UMURNYA UDAH TUA TAPI INI MASIH BAGUS”.
“Bagus apanya ini tuh udah jadi sampah”.
Kesal dengan ucapan si pengemudi Riana dengan sengaja menginjak kakinya, yang diinjak mengaduh kesakitan.
“Brengsek..” ucap Dion sambil mengangkat tangan berniat melayangkan tamparan. Namun niatnya terhenti oleh seseorang yang menahan lengannya.
“Apa – apaan si lo fan gue mau ngasih dia pelajaran lo ga usah ikut campur”.
“Lo jangan kasar sama cewe”
“Apa hak lo ngatur gue? Lo babu gue, balik sana kemobil”.
Rafan tidak menjawab dan sama sekali tidak bergerak, dia masih melihat gadis dihadapannya yang masih menutup mata karena takut dengan penuh kekhawatiran.
“Eh Rafan sini lo” Ucap orang didalam mobil Dion
“Kak Rafan?” Ucapnya saat mendengar nama kakaknya. “Kak Rafan ko disini? Kak lihat dia, dia bilang Sepeda ayah jelek. Sepeda ayah masih bagus kan kak?”. Tanya Riana pada Rafan
Rafan tidak menjawab dia hanya masih menatap Riana dengan tatapan yang tidak terbaca.
“Wahh temen temen adiknya si babu nih kayanya” Teriak Dion
“Dia bukan adik gue”. Ucap Rafan mengejutkan Riana
“Lo ga usah malu fan sama kita, kalian itu sama ko. Sama sama terlahir miskin HAHAHA”. Ucap Dion
“Hey laki laki sombong, laki laki nakal. Walaupun aku terlahir miskin tapi aku enggak pernah menyusahkan siapapun kayak kamu yah”.
“Orang miskin kan emang harus tau diri kalo dia itu susah jadi jangan pernah nyusahin orang lain. Lagian siapa yang mau disusahin sama orang miskin kaya lo ga ada tau ga. Pulang sana lo gue males berurusan sama orang miskin nanti ujung – ujungnya malah minta duit”. Ucap Dion lalu menendang sepeda milik Riana. “Lo ke basecamp jalan kaki fan, gue tahu lo ga mampu buat naek angkot juga. itu hukuman karena lo ganggu urusan gue”. Ucap Dion dari dalam mobil dan melajukan mobilnya.
Hening, menyelimuti keberadaan kakak beradik ini. Riana yang bingung harus melakukan apa karena masih terkejut dengan yang di ucapkan Dion. Rafan yang menatap Riana yang ketakutan dengan penuh kekhawatiran.
“Pulang!” Perintah Rafan pada Riana
“eee, sama kak Rafan kan?”
“Sendiri”. Ucap Rafan sambal melangkah pergi
“Kak Rafan mau kemana? Aku ikut”. Ucap Riana lalu berjalan mengikuti Rafan. Sadar Rafan sedang diikuti oleh adiknya, dia berhenti dan berbalik “Pulang ibu nyariin”. Riana berhenti dan terdiam sesaat, diaa beru ingat dia harus cepat cepat bertemu ibunya. Saat tersadar Riana tak lagi melihat Rafan dihadapannya. Mungkin Rafan sudah pulang, fikir Riana. Tanpa Riana ketahui ada seseorang yang masih mengawasinya pergi, jauh dari lubuk hatinya dia khawatir pada gadis itu. Dia takut terjadi apa – apa pada gadis kecil itu. Dia menyesel, dia kecewa pada dirinya yang telahmengecewakan gadis itu, “Hati – hati ya Ri. Nanti kakak pulang” Ucapnya sebelum berlari pergi.
Tiba dikediaman Tuan Andrean Riana langsung memencet bel rumah mewah ini.
Ting Tong
Ting Tong
“Assalamualaikum Ibu, ini Ana” Teriak Riana dari luar
Ting Tong
“Waalaikumsalam, sebentar”. Teriak ibu dari dalam
“Tumben kesini na, ada apa?” Tanya Ibu
“Ibu, Orang tua Shena udah pulang ya?”
“Belum, tuan sama nyonya belum pulang dari sebulan yang lalu. Biasanya mereka kalau pulang pasti menelpon rumah. Memang ada apa na?”
“Loh, waktu disekolah Shena pulang bu katanya orang tuanya pulang, dia mau ketemu sama mereka”.
“Tapi non Shena belum kesini dari pagi. Coba kamu telpon non Shena”.
Riana mencoba menelpon Shena tetapi nomornya tidak aktif, sepertinya hpnya sengaja dia matikan agar tidak ada yang bisa menghubunginya. Riana dan ibu memutuskan untuk mencari Shena disekitar taman yang biasa dia datangi, Tetapi nihil Shena tidak ada disana. Riana bingung harus mencarinya kemana lagi, dia tidak tahu kemana saja Shena selalu pergi. Riana mencari ketempat bimbel Shena, namun hasilnya sama Shena tidak ada disana, bahkan daftar hadir bimbelnya pun sudah berminggu – minggu kosong, itu artinya sudah lama Shena tidak bimbel. Lalu kemana Shena pergi?
Karena senja sudah datang, akhirnya Riana dan Ibu memutuskan pulang, dengan berat hati Riana menuruti ibunya. Saat sampai dirumah Riiana tidak bisa tenang, ia terus mencoba menghubungi Shena wlaupun handphone Shena masih tidak aktif.
“Rafan kok belum pulang bu?” Tanya Ayah
“Iya nih nggak biasanya Rafan belum pulang, coba ayah telpon”.
Ayah mencoba menelpon Rafan, tetapi tidak ada jawaban. Terus seperti itu sampai 10 kali panggilan ayah tidak ada satu pun yang di jawab Rafan.
Bicara tentang kak Rafan Riana jadi mengingat kejadian siang tadi. Apa kak Rafan pergi Bersama anak anak nakal itu?. Saat Riana akan memcoba menelpon Rafan, ada yang mengetuk pintu rumah Riana.
Tok tok tok
Ternyata kak Rafan, dia datang dengan kabisuan, tidak mengucapkan salam dan tidak menjawab pertanyaan ayah dan ibu.
“Kak Rafan gapapa?” Tanya Riana yang dibalas anggukan oleh Rafan
“Kakak, kenapa baru sampai rumah?” Tanya ibu sambil mengahampiri kak Rafan yang berjalan menuju kamarnya. Kak Rafan mengunci pintu kamarnya, tidak membiarkan siapapun masuk atau mengganggunya.
“Kakak kamu kenapa na?” Tanya Ayah
“eeee mungkin kakak banyak tugas yah, jadi kepikiran. Kan kakak udah kelas 12”.
Saat sedang berjalan menuju kamar Ayah mendapat telpon dari seseorang.
“Ya hallo. Ini dengan siapa?”
“Hallo, apa benar ini Pak Sukma Wiharjo suami dari Ibu Indira yang mengurus kediaman Tuan Andrean?”
“Ya benar saya sendiri. Ada apa?”
“Saya sekertaris Tuan Andrean ingin memberitahu bahwa Tuan Andrean beserta Istrinya telah meninggal”.
“Si mbanya buru – buru amat, mau kemana?” Tanya Ajeng saat melihat Riana yang sedang memasukan bukunya asal ke dalam tas. Tak ada jawaban dari Riana, bukannya tak mau menjawab pertanyaan Ajeng, hanya saja Riana tidak mendengar suara Ajeng karena terlalu focus memikirkan Shena.
“KACANG SUUK, Balik bae ah urang mah pundung. Asa wae ngomong sorangan”. Tanpa menunggu jawaban Riana Ajeng pergi meninggalkan kelas. Karena Ajeng tahu pasti Riana tidak mendengarnya lagi.
Saat keluar dari area sekolah, Riana bergegas mengayuh sepedanya dengan cepat.
“WOY SEPEDA JELEK YANG BENER DONG BAWANYA”. Ucap Pengendara ugal – ugalan.
“INI SEPEDA AYAH BUKAN SEPEDA JELEK TAHU. DASAR JELEK”. Teriak Riana tak terima karena sepeda ayahnya ini disebut sepeda jelek. Mendengar ucapan Riana sang pengemudi mobil itu berhenti, dan turun menghampiri Riana.
“Yang jelek ini sepeda tua lo tau, buang sana dijual aja ga laku HAHA”. Ucap si pengemudi yang bernama Dion
“INI SEPEDA AYAH BUKAN SEPEDA JELEK, WALAUPUN UMURNYA UDAH TUA TAPI INI MASIH BAGUS”.
“Bagus apanya ini tuh udah jadi sampah”.
Kesal dengan ucapan si pengemudi Riana dengan sengaja menginjak kakinya, yang diinjak mengaduh kesakitan.
“Brengsek..” ucap Dion sambil mengangkat tangan berniat melayangkan tamparan. Namun niatnya terhenti oleh seseorang yang menahan lengannya.
“Apa – apaan si lo fan gue mau ngasih dia pelajaran lo ga usah ikut campur”.
“Lo jangan kasar sama cewe”
“Apa hak lo ngatur gue? Lo babu gue, balik sana kemobil”.
Rafan tidak menjawab dan sama sekali tidak bergerak, dia masih melihat gadis dihadapannya yang masih menutup mata karena takut dengan penuh kekhawatiran.
“Eh Rafan sini lo” Ucap orang didalam mobil Dion
“Kak Rafan?” Ucapnya saat mendengar nama kakaknya. “Kak Rafan ko disini? Kak lihat dia, dia bilang Sepeda ayah jelek. Sepeda ayah masih bagus kan kak?”. Tanya Riana pada Rafan
Rafan tidak menjawab dia hanya masih menatap Riana dengan tatapan yang tidak terbaca.
“Wahh temen temen adiknya si babu nih kayanya” Teriak Dion
“Dia bukan adik gue”. Ucap Rafan mengejutkan Riana
“Lo ga usah malu fan sama kita, kalian itu sama ko. Sama sama terlahir miskin HAHAHA”. Ucap Dion
“Hey laki laki sombong, laki laki nakal. Walaupun aku terlahir miskin tapi aku enggak pernah menyusahkan siapapun kayak kamu yah”.
“Orang miskin kan emang harus tau diri kalo dia itu susah jadi jangan pernah nyusahin orang lain. Lagian siapa yang mau disusahin sama orang miskin kaya lo ga ada tau ga. Pulang sana lo gue males berurusan sama orang miskin nanti ujung – ujungnya malah minta duit”. Ucap Dion lalu menendang sepeda milik Riana. “Lo ke basecamp jalan kaki fan, gue tahu lo ga mampu buat naek angkot juga. itu hukuman karena lo ganggu urusan gue”. Ucap Dion dari dalam mobil dan melajukan mobilnya.
Hening, menyelimuti keberadaan kakak beradik ini. Riana yang bingung harus melakukan apa karena masih terkejut dengan yang di ucapkan Dion. Rafan yang menatap Riana yang ketakutan dengan penuh kekhawatiran.
“Pulang!” Perintah Rafan pada Riana
“eee, sama kak Rafan kan?”
“Sendiri”. Ucap Rafan sambal melangkah pergi
“Kak Rafan mau kemana? Aku ikut”. Ucap Riana lalu berjalan mengikuti Rafan. Sadar Rafan sedang diikuti oleh adiknya, dia berhenti dan berbalik “Pulang ibu nyariin”. Riana berhenti dan terdiam sesaat, diaa beru ingat dia harus cepat cepat bertemu ibunya. Saat tersadar Riana tak lagi melihat Rafan dihadapannya. Mungkin Rafan sudah pulang, fikir Riana. Tanpa Riana ketahui ada seseorang yang masih mengawasinya pergi, jauh dari lubuk hatinya dia khawatir pada gadis itu. Dia takut terjadi apa – apa pada gadis kecil itu. Dia menyesel, dia kecewa pada dirinya yang telahmengecewakan gadis itu, “Hati – hati ya Ri. Nanti kakak pulang” Ucapnya sebelum berlari pergi.
Tiba dikediaman Tuan Andrean Riana langsung memencet bel rumah mewah ini.
Ting Tong
Ting Tong
“Assalamualaikum Ibu, ini Ana” Teriak Riana dari luar
Ting Tong
“Waalaikumsalam, sebentar”. Teriak ibu dari dalam
“Tumben kesini na, ada apa?” Tanya Ibu
“Ibu, Orang tua Shena udah pulang ya?”
“Belum, tuan sama nyonya belum pulang dari sebulan yang lalu. Biasanya mereka kalau pulang pasti menelpon rumah. Memang ada apa na?”
“Loh, waktu disekolah Shena pulang bu katanya orang tuanya pulang, dia mau ketemu sama mereka”.
“Tapi non Shena belum kesini dari pagi. Coba kamu telpon non Shena”.
Riana mencoba menelpon Shena tetapi nomornya tidak aktif, sepertinya hpnya sengaja dia matikan agar tidak ada yang bisa menghubunginya. Riana dan ibu memutuskan untuk mencari Shena disekitar taman yang biasa dia datangi, Tetapi nihil Shena tidak ada disana. Riana bingung harus mencarinya kemana lagi, dia tidak tahu kemana saja Shena selalu pergi. Riana mencari ketempat bimbel Shena, namun hasilnya sama Shena tidak ada disana, bahkan daftar hadir bimbelnya pun sudah berminggu – minggu kosong, itu artinya sudah lama Shena tidak bimbel. Lalu kemana Shena pergi?
Karena senja sudah datang, akhirnya Riana dan Ibu memutuskan pulang, dengan berat hati Riana menuruti ibunya. Saat sampai dirumah Riiana tidak bisa tenang, ia terus mencoba menghubungi Shena wlaupun handphone Shena masih tidak aktif.
“Rafan kok belum pulang bu?” Tanya Ayah
“Iya nih nggak biasanya Rafan belum pulang, coba ayah telpon”.
Ayah mencoba menelpon Rafan, tetapi tidak ada jawaban. Terus seperti itu sampai 10 kali panggilan ayah tidak ada satu pun yang di jawab Rafan.
Bicara tentang kak Rafan Riana jadi mengingat kejadian siang tadi. Apa kak Rafan pergi Bersama anak anak nakal itu?. Saat Riana akan memcoba menelpon Rafan, ada yang mengetuk pintu rumah Riana.
Tok tok tok
Ternyata kak Rafan, dia datang dengan kabisuan, tidak mengucapkan salam dan tidak menjawab pertanyaan ayah dan ibu.
“Kak Rafan gapapa?” Tanya Riana yang dibalas anggukan oleh Rafan
“Kakak, kenapa baru sampai rumah?” Tanya ibu sambil mengahampiri kak Rafan yang berjalan menuju kamarnya. Kak Rafan mengunci pintu kamarnya, tidak membiarkan siapapun masuk atau mengganggunya.
“Kakak kamu kenapa na?” Tanya Ayah
“eeee mungkin kakak banyak tugas yah, jadi kepikiran. Kan kakak udah kelas 12”.
Saat sedang berjalan menuju kamar Ayah mendapat telpon dari seseorang.
“Ya hallo. Ini dengan siapa?”
“Hallo, apa benar ini Pak Sukma Wiharjo suami dari Ibu Indira yang mengurus kediaman Tuan Andrean?”
“Ya benar saya sendiri. Ada apa?”
“Saya sekertaris Tuan Andrean ingin memberitahu bahwa Tuan Andrean beserta Istrinya telah meninggal”.
Bagus, Lanjutkan lagi yaa
BalasHapus