Langsung ke konten utama

Cerpenku

Tersimpan
Kusambut pagi yang cerah ini dengan senyum sumringah, mentari yang muncul dengan malu malu menandakan hari senin telah dimulai. Entah apa setiap hari senin aku selalu bangun pagi tapi terlambat sampai disekolah. Senin yang sama, hari ini aku terlambat 10 menit ada kemajuan dari senin senin sebelumnya. Tapi senin kali ini berbeda, ada yang baru saja aku lihat, seseorang dan kendaraan yang menarik perhatian ku. Seseorang itu turun dengan hati – hati lalu berdiri ditepi jalan menunggu teman temannya turun. Tak sadar ternyata aku belum menyebrang, ah fokusku terus padanya, menyebalkan.
Karena kelasnya yang berada dilantai dua harus membuatnya berlari cepat sebelum upacara bendera dimulai. Jantungku juga ikut berlari saat dia melewat di depanku, oh ini terlalu berlebihan aku membencinya.
“Tadi aku ga sengaja ketemu dia”.
“Oh yaaa? Gue terkejut loh”.
“Apaan sih lebay deh”
“Biarin abisnya gue kesel banget nih, gue dari tadi loh masuk lapang dan belum mulai – mulai. Kayanya tu guru nungguin lo datang deh nai”.
“Lebay lo gab gue siapa disekolah ini? Tu guru nunggu guru yang lainnya kumpul baru mulai kali”.
“Yaelah kesel banget gue murid telat dihukum guru telat ditungguin”.
“Berisik lo ngeluh aja sih”.
“ihhh gue BT sama lo ya titik”.
“Ehem tadi juga gue liat doi lo gab bareng sama dia”.
“Yang bener lo doi gue naek delman? Hello ngibul nih”.
“Yaelah ni anak mangapa sih naek delman aja kok, bukan naik truk sampah”.
 “Ihh kan dia tuh ada motor gede napa malah naik delman coba?”.
“Ya mana gue tahu lah, lagian nih ya gab naik delman tu irit ongkos tau. Dia duduk disamping pak kusir yang sedang bekerja, mengendarai kuda supaya baik jalannya hey. Lo jadi cewek jangan liat motornya napa si ah”.
“Ye, nih gue kasih tahu ya nona Sinai Putri Hermawan Jaman sekarang tu Jaman modern , apa apa tu pake yang modern. Delman kan udah kuno, apalagi buat doi yang cem anak kekinian ya beda jauh gitu ya levelnya tuh”.
“Udah ah berisik lo”.
“Ye dibilangin gimana sih”.
Setelah 45 menit akhirnya upacara selesai dan barisan dibubakan, semua murid kembali kekelasnya masing – masing. Baru saja aku ingin duduk si rempong gabriella menarik lenganku.
“WC yu nai gue mules nih”.
“Ahh males lama kan kalo poop”.
“Bentaran doang gue mah beneran deh,buruan ahh”.
“5 menit oke?”.
“Eh buset gue baru jongkok”.
“10 menit atau tidak sama sekali”.
“20 menit lah”.
“15”
“Iyedah buruan gatahan nih”.
Karena bosan menunggu gabriella di Kamar Mandi, aku memutuskan untuk ke kantin terlebih dahulu. Kebetulan aku belum sarapan, aku mampir di salah satu warung yang ada dikantin. Warung ini posisinya di ujung, jadi aku makan dipojok meja. Saat sedang asik menyantap makanan sambal bersenandung tanpa disengaja mataku berhasil menatap sosok yang menarik perhatianku, saat dia menatapku balik, aku langsung membuang muka. “anjir kikuk banget gue”. Kataku dalam hati “Pengen pergi tapi sayang nasinya, bungkus aja deh”. “Bu bungkus yang ini ya”. Kataku sambil menunjuk piring yang masih setengah nasi dan tidak lupa membayar.
“Gab kok belum selesai, udah setengah jam nih ah”.
“Gab..”
“Nyari siapa anda hah? Gue buru buru nih belum tuntas Taunya lo ga da. Dan sekarang setelah kamu pergi kamu kembali padaku. Halah basi”.
“Otak lo ikut keluar ya?”
“Ya kagak lah lawak lo”.
Hari berjalan sebagaimana biasanya, Gabriella Adinda dengan keretjehan dan kealayannya memuja motor gede doinya. Untuk seminggu ini aku anggap kesianganku adalah keberuntungan, melihatnya turun dari delman setiap pagi. Sebenarnya bukan hal mudah untuk menahan rasa senang ini, bagi aku yang sedang dalam masa menemukan DIA.
“Gab lo tahu perasaan gue kan?”.
“Ya enggalah lo kira gue dukun apa”.
“Maksud gue bukan itu, maksud gue..eee.. maksud gu-..”.
“HAHA gue ngerti ko, lo sedang dalam masanya. Gue pernah seperti yang lo alami sekarang. Tapi saat itu gue langsung berterusterang sama dia kalo gue suka sama dia, kakak kelas gue. Gue fikir dia itu baik, yang gue tau katanya dia itu ramah sama semua orang, jadi gue suka sama dia. Kakak kelas gue menolaknya karena dia ga suka gue, katanya gue masih labil, masih bocah, ga cocok buat dia. Dia ngomong gitu didepan temen -  temennya saat ga sengaja gue ketemu mereka”. “Gue malu banget, sejak saat itu gue ga pernah liat cowok dari sikapnya lagi, gue sadar gue salah gue melihat seseorang bukan karena kebaikannya, gue lihat seseorang hanya dari penampilannya. Gue udah janji ko pada diri gue sendiri kalo gue akan berubah lo tenang aja, tapi untuk saat ini biarin gue menikmati apa yang gue suka ya nai”. Ucapan Gabriella mengejutkan aku.
“Tenang nai, lo gausah bicara apa apa tentang gue. Ini masa muda lo, kalo kata orang saat seperti inilah masa yang indah. Gimana senengnya lo ketemu DIA, gimana senengnya DIA tahu kalau lo ada disekitar DIA. Lo mau perjuangkan atau lao mau menyimpan rasa lo , itu terserah lo nai. Gue dukung apapun keputusan yang membuat lo seneng”. Jelas Gabriella
“AAAAA gab lo ko jadi pakar cinta gini sih? Gue terharu loh denger omongan lo”.
“Lebay lo”
“Tapi gab gue sudah memutuskan kayanya gue nyimpen perasaan gue aja deh. Gue ga percaya diri kalo dia tau perasaan gue”.
“Lo yakin lo sekuat itu? Jika suatu saat DIA punya cewek apa lo nyesel atau marah?”.
“Ga lah gue tau siapa gue ko. Siapapun ceweknya gue ga ada berhak marahlah. Inikan yang gue putuskan”.
“Kalo cewek itu gue, gimana?”
“Yahh gab lo jahat banget sih”.
“Lahh gimana katanya siapapun ceweknya”.
“Yaa jangan elo juga dong, lo kan sahabat gue”.
“Oke Oke gue ga suka sama DIA ko. Saat lo berani bilang, lo terusterang aja ya. Jangan kelamaann disimpen nanti busuk”.
“Kita liat aja”.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NOVELKU -chapter 1-

Separuh Hati      Hallo namaku Riana Wiharjo, aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahku Sukma Wiharjo beliau pekerja buruh. Dan ibuku indira beliau Asisten Rumah Tangga di sebuah rumah besar yang ditinggali sahabat ku. Dan satu lagi dia kakak ku pelindungku Rafan Wiharjo. Aku bersekolah di SMA kenanga  kelas XI Fisika 1. Setiap hari sebelum pergi sekolah aku selalu mengantarkan ibu ke tempat bekerja menggunakan sepeda ontel tua milik ayah. Ibu sangat menyukai sepeda ayah, ibu senang jika ia berada dibangku belakang sepeda ayah. Katanya hal yang paling menyenangkan adalah naik sepeda dengan ayah, seperti masa muda dulu. Ayah sudah memasuki umur kepala lima sedangkan ibu baru berusia 35 tahun. Cinta memang tidak memandang usia, hal yang sepele ibu jatuh cinta pada sepeda ayah baru kepada ayah. Katanya dulu ibu suka bersepeda keliling kampung, dan saat itu ibu melihat sepeda ontel yang menarik perhatian ibu, sepeda itu warna warni, warna yang mencolok p...

NOVELKU -chapter 4-

Setelah kepergian Shena Riana tidak bisa tenang, ia ragu jika Shena pulang untuk menemui kedua orang tuanya. Riana ingin cepat pulang dan bertanya kepada ibunya apakah benar orang tua Shena pulang dan bertemu dengan Shena. “Si mbanya buru – buru amat, mau kemana?” Tanya Ajeng saat melihat Riana yang sedang memasukan bukunya asal ke dalam tas. Tak ada jawaban dari Riana, bukannya tak mau menjawab pertanyaan Ajeng, hanya saja Riana tidak mendengar suara Ajeng karena terlalu focus memikirkan Shena. “KACANG SUUK, Balik bae ah urang mah pundung. Asa wae ngomong sorangan”. Tanpa menunggu jawaban Riana Ajeng pergi meninggalkan kelas. Karena Ajeng tahu pasti Riana tidak mendengarnya lagi. Saat keluar dari area sekolah, Riana bergegas mengayuh sepedanya dengan cepat. “WOY SEPEDA JELEK YANG BENER DONG BAWANYA”. Ucap Pengendara ugal – ugalan. “INI SEPEDA AYAH BUKAN SEPEDA JELEK TAHU. DASAR JELEK”. Teriak Riana tak terima karena sepeda ayahnya ini disebut sepeda jelek. Mendengar ucapan Rian...