Sepulang sekolah pukul 16.00 Riana langsung pergi ketaman menemui Shena, Shena tengah duduk dibangku Panjang taman dengan wajah yang ditutupi buku. Sepertinya dia tidur
“Nana, ko tidur disini?” tanya Riana
“Gue ngupil bukan tidur, nih liat”. Ucap Shena menunjukan telunjuknya iww
“Pantes upilnya cepet dapet, kukunya Panjang sih. Sini aku potongin, tapi lap dulu bekas ngupilnya”. Ujar Riana
“nih..” Shena memberi tangannya.
Riana mulai memotong kuku Shena, hening beberapa saat menyelimuti mereka. Hingga akhirnya Shena membuka suara
“Ri, keluarga lo baik – baik aja kan?”.
“Hmm.. Iya, kenapa?”. Tanyaku
“Keluarga gue gak baik – baik aja. Gue merasa ga punya keluarga, mereka ga punya anak, mereka hanya punya harta, mereka mencari harta”.
“Gue sempat punya adik, Namanya Rhena Riana Andrean. Dia meninggal saat usianya 7 bulan, saat itu dia demam tinggi gue ada dirumah menjaga adik gue. Gue sudah beberapa puluh kali menelpon mereka, papah dan mamah gue. Tapi gak ada yang menjawab telpon dari gue, gue kecewa. Gue langsung bawa adik gue ke rumah sakit. Karena terlambat membawanya kerumah sakit gue kehilangan adik kecil gue, gue menyesal telah menunggu jawaban telpon dari mereka. Gue menyesal masih mengandalkan mereka untuk membantu adik kecil gue. Nyokap gue saat hamil Rhena dia tetep maksa mau kerja, alasannya cari uang untuk gue, dan saat itu gue iya iya aja. Dan saat setelah melahirkan Rhena, 7 hari kemudian dia balik lagi kerja tanpa peduli pada anak – anaknya. Bokap gue pulang hanya untuk menemani nyokap melahirkan, setelah itu dia pergi lagi alasannya kerja”.
Hening kembali menyelimuti mereka
“Shen..”
“Sejak saat itu gue benci mereka, anak smp yang membenci orang tuanya. Sebelum ibu indi, ibu lo datang gue hanya anak yang dititipkan kepada tetangga dengan upah. Setiap malam gue tertidur dirumah tetangga, tapi setiap pagi gue bangun dirumah gue dan yang pertama gue temukan adalah tetangga gue. Katanya bokap gue yang bawa pindah tapi mereka berangkat dari subuh, jadi tetangga gue yang ngurusin sarapan”. “Setelah ibu lo datang gue jadi anak yang pendiam, selalu mengurung diri di kamar. Sampai gue menemukan sosok yang selama ini gue cari sosok ibu, yaitu ibu lo. Dan gue seperti bertemu dengan adik gue yang sudah besar yaitu lo. Gue seneng, lo beruntung”. Tangis Shena pecah ketika dia menyelesaikan ceritanya.
“Nangis Shen jika itu membuat kamu lega”. “Mereka sayang kamu shen tapi menunjukannya dengan cara lain. Mereka mengambil cara dengan terus mencari uang, mereka pikir dengan uang Shenanya akan merasa selalu terpenuhi tidak pernah merasa kekurangan, agar shenanya tidak kesusahan saat di masa depan”. “Seburuk apapun orangtua kamu, jangan pernah benci mereka ya shen”. Ucapku menenangkan
“Berapa lama lagi gue harus sabar menunggu mereka pulang? Berapa lama lagi gue harus mengerti mereka Ri? Gue jenuh gue kecewa gue capek diselimuti kebencian ini”.
“Shen..”
“Gue lagi pengen sendiri ya Ri”.
“Tapi Shen-..”.
“I’m Okay Ri”.
“hmmm, Oke kalau ada apa apa telpon aku atau ibu ya. Aku pulang”. Pamit Riana yang dibalas anggukan oleh Shena.
Saat perjalanan pulang dengan sepedanya Riana bertemu kakaknya Rafan. Dari kejauhan Riana melihat Rafan sedang dalam kesenangan, Riana ingin tahu apa yang membuat kak Rafan senang.
“Kak Rafan abis dari mana? Pulang bareng ana yuk kak”. Ajak Riana
Rafan terkejut dengan kedatangan Riana, ia langsung merubah kesenengannya menjadi kebisuan. Rafan tak menggubris ajakan Riana, ia terus berjalan sambal mencari angkot.
“Kakak, tadi gak main sama anak nakal itu kan kak? Aku takut kakak kenapa napa kalau main sama mereka. Kakak jadi kayak gini bukan karena me-..”.
“Berisik. Pulang sana!”. Potong Kak Rafan menyentak
“Kita pulang bareng aja yu kak, ibu sama ayah seneng pasti liat kita pulang bareng lagi naik sepeda ini”.
“Jangan ganggu, pulang duluan sana. Gue ada urusan”.
“Kak-..” ucap Riana yang dibalas tatapan tajam oleh Kak Rafan.
Riana menunduk tak berani, ini pertama kalinya ia mendapat tatapan tajam dari sang Kakak, ia berfikir kakaknya sudah sangat membencinya entah karena apa.
“Hati – hati kak, cepat pulang ya ibu pasti sudah nunggu”. Pamit Riana
“Hati – hati na”. Ucap Rafan dalam hati, ada sesak disana ada rasa bersalah disana. Melihat adiknya sedih karena ulahnya. Ada surat digenggamannya “Ini hadiah untuk ayah, ibu dan kamu na. tunggu yah”.
“Nana, ko tidur disini?” tanya Riana
“Gue ngupil bukan tidur, nih liat”. Ucap Shena menunjukan telunjuknya iww
“Pantes upilnya cepet dapet, kukunya Panjang sih. Sini aku potongin, tapi lap dulu bekas ngupilnya”. Ujar Riana
“nih..” Shena memberi tangannya.
Riana mulai memotong kuku Shena, hening beberapa saat menyelimuti mereka. Hingga akhirnya Shena membuka suara
“Ri, keluarga lo baik – baik aja kan?”.
“Hmm.. Iya, kenapa?”. Tanyaku
“Keluarga gue gak baik – baik aja. Gue merasa ga punya keluarga, mereka ga punya anak, mereka hanya punya harta, mereka mencari harta”.
“Gue sempat punya adik, Namanya Rhena Riana Andrean. Dia meninggal saat usianya 7 bulan, saat itu dia demam tinggi gue ada dirumah menjaga adik gue. Gue sudah beberapa puluh kali menelpon mereka, papah dan mamah gue. Tapi gak ada yang menjawab telpon dari gue, gue kecewa. Gue langsung bawa adik gue ke rumah sakit. Karena terlambat membawanya kerumah sakit gue kehilangan adik kecil gue, gue menyesal telah menunggu jawaban telpon dari mereka. Gue menyesal masih mengandalkan mereka untuk membantu adik kecil gue. Nyokap gue saat hamil Rhena dia tetep maksa mau kerja, alasannya cari uang untuk gue, dan saat itu gue iya iya aja. Dan saat setelah melahirkan Rhena, 7 hari kemudian dia balik lagi kerja tanpa peduli pada anak – anaknya. Bokap gue pulang hanya untuk menemani nyokap melahirkan, setelah itu dia pergi lagi alasannya kerja”.
Hening kembali menyelimuti mereka
“Shen..”
“Sejak saat itu gue benci mereka, anak smp yang membenci orang tuanya. Sebelum ibu indi, ibu lo datang gue hanya anak yang dititipkan kepada tetangga dengan upah. Setiap malam gue tertidur dirumah tetangga, tapi setiap pagi gue bangun dirumah gue dan yang pertama gue temukan adalah tetangga gue. Katanya bokap gue yang bawa pindah tapi mereka berangkat dari subuh, jadi tetangga gue yang ngurusin sarapan”. “Setelah ibu lo datang gue jadi anak yang pendiam, selalu mengurung diri di kamar. Sampai gue menemukan sosok yang selama ini gue cari sosok ibu, yaitu ibu lo. Dan gue seperti bertemu dengan adik gue yang sudah besar yaitu lo. Gue seneng, lo beruntung”. Tangis Shena pecah ketika dia menyelesaikan ceritanya.
“Nangis Shen jika itu membuat kamu lega”. “Mereka sayang kamu shen tapi menunjukannya dengan cara lain. Mereka mengambil cara dengan terus mencari uang, mereka pikir dengan uang Shenanya akan merasa selalu terpenuhi tidak pernah merasa kekurangan, agar shenanya tidak kesusahan saat di masa depan”. “Seburuk apapun orangtua kamu, jangan pernah benci mereka ya shen”. Ucapku menenangkan
“Berapa lama lagi gue harus sabar menunggu mereka pulang? Berapa lama lagi gue harus mengerti mereka Ri? Gue jenuh gue kecewa gue capek diselimuti kebencian ini”.
“Shen..”
“Gue lagi pengen sendiri ya Ri”.
“Tapi Shen-..”.
“I’m Okay Ri”.
“hmmm, Oke kalau ada apa apa telpon aku atau ibu ya. Aku pulang”. Pamit Riana yang dibalas anggukan oleh Shena.
Saat perjalanan pulang dengan sepedanya Riana bertemu kakaknya Rafan. Dari kejauhan Riana melihat Rafan sedang dalam kesenangan, Riana ingin tahu apa yang membuat kak Rafan senang.
“Kak Rafan abis dari mana? Pulang bareng ana yuk kak”. Ajak Riana
Rafan terkejut dengan kedatangan Riana, ia langsung merubah kesenengannya menjadi kebisuan. Rafan tak menggubris ajakan Riana, ia terus berjalan sambal mencari angkot.
“Kakak, tadi gak main sama anak nakal itu kan kak? Aku takut kakak kenapa napa kalau main sama mereka. Kakak jadi kayak gini bukan karena me-..”.
“Berisik. Pulang sana!”. Potong Kak Rafan menyentak
“Kita pulang bareng aja yu kak, ibu sama ayah seneng pasti liat kita pulang bareng lagi naik sepeda ini”.
“Jangan ganggu, pulang duluan sana. Gue ada urusan”.
“Kak-..” ucap Riana yang dibalas tatapan tajam oleh Kak Rafan.
Riana menunduk tak berani, ini pertama kalinya ia mendapat tatapan tajam dari sang Kakak, ia berfikir kakaknya sudah sangat membencinya entah karena apa.
“Hati – hati kak, cepat pulang ya ibu pasti sudah nunggu”. Pamit Riana
“Hati – hati na”. Ucap Rafan dalam hati, ada sesak disana ada rasa bersalah disana. Melihat adiknya sedih karena ulahnya. Ada surat digenggamannya “Ini hadiah untuk ayah, ibu dan kamu na. tunggu yah”.
Good,Lanjutt na👍🏻
BalasHapusSukak na bagus
BalasHapusBagusssss
BalasHapusGood👍🏻
BalasHapus